
Abu Dhabi – Presiden Kelima Republik Indonesia, Hj. Megawati Soekarnoputri, memberikan pesan kuat mengenai hakikat kepemimpinan perempuan dalam forum internasional Human Fraternity Majlis yang digelar di Museum Nasional Zayed, Abu Dhabi (19/6/2026) waktu setempat.
Di hadapan para tokoh dunia dan pemimpin perempuan global, Megawati menegaskan bahwa kepemimpinan perempuan memiliki kekuatan khas yang terletak pada kemampuan untuk merawat, bukan mendominasi. Baginya, kekuasaan harus dijalankan dengan naluri pelindung yang mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat.
“Sebagai seorang perempuan, saya membawa keyakinan bahwa kepemimpinan bukan tentang dominasi, melainkan tentang upaya merangkul dan merawat, serta bukan menindas,” ujar Megawati Soekarnoputri.
Megawati membagikan pengalaman historis saat ia memimpin Indonesia di masa transisi demokrasi yang rapuh pada awal dekade 2000-an. Saat itu, Indonesia menghadapi ujian berat berupa konflik horizontal di Poso (Sulawesi Tengah) dan Ambon (Maluku) yang mengancam persatuan nasional.
“Dalam situasi waktu itu, sebagai kepala negara saya membawa negara hadir bukan sebagai kekuatan represif, melainkan sebagai penjamin rekonsiliasi dengan semangat kekeluargaan,” ungkapnya.
Melalui dialog dan musyawarah mufakat, pemerintahan di bawah kepemimpinannya dan Presiden Abdurrahman “Gus Dur” Wahid saat itu berhasil menghentikan pertumpahan darah dan membangun kembali kepercayaan antar-kelompok yang bertikai.
Lebih lanjut, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan ini menjelaskan bahwa kepemimpinan sejati menuntut kemampuan untuk mendengar “denyut kehidupan rakyat”. Menurutnya, kewenangan formal negara saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan empati sosial dan kesadaran historis.



