
STABAT – Tiga dekade perjalanan Peristiwa 27 Juli 1996 atau Kudatuli menjadi momentum bagi DPC PDI Perjuangan Kabupaten Langkat untuk kembali mengenang para kader dan tokoh yang pernah berdiri di garis perjuangan bersama Megawati Soekarnoputri.
Peringatan yang berlangsung di Aula Sekretariat DPC PDI Perjuangan Langkat, Stabat, Senin (27/7), berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan emosional. Salah satu momen yang menyentuh terjadi ketika Ketua DPC PDI Perjuangan Langkat, Romelta Ginting, menyerahkan potongan nasi tumpeng kepada sejumlah sosok yang dianggap memiliki catatan penting dalam perjalanan perjuangan partai di Kabupaten Langkat.
Potongan tumpeng secara berurutan diberikan kepada Heri Antony sebagai kader senior, kemudian kepada Ralin Sinulingga, yang pernah memimpin DPC PDI Perjuangan Langkat. Penghormatan berikutnya diberikan kepada Sekula Kembaren, seorang simpatisan Pro Mega pada 1998 yang kemudian memilih bergabung dan menjadi bagian dari PDI Perjuangan.
Namun, suasana berubah semakin haru ketika potongan tumpeng berikutnya diberikan kepada Patuan Bangun, putra dari almarhum Samamesa Bangun, tokoh Pro Mega di Kabupaten Langkat yang juga pernah dipercaya menjabat sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Langkat.
Bagi Romelta, kehadiran Patuan Bangun dalam momentum tersebut memiliki makna tersendiri. Ia menilai semangat perjuangan yang pernah ditunjukkan Samamesa Bangun merupakan bagian dari sejarah yang patut terus diwariskan kepada generasi kader berikutnya.
“Ayah Anda adalah Pro Mega sejati. Bung Samamesa Bangun merupakan panutan kami. Saya berharap kehadiran Anda di DPC PDI Perjuangan Langkat dapat meneruskan semangat perjuangan beliau untuk memajukan partai kita,” ujar Romelta.
Penghormatan tersebut mendapat sambutan emosional dari Patuan Bangun. Ia mengaku tersentuh karena perjuangan dan jasa ayahnya masih dikenang oleh keluarga besar PDI Perjuangan Langkat.
“Terima kasih Bung Romel, terima kasih DPC PDI Perjuangan Langkat. Saya sangat terharu karena partai masih mengingat jasa-jasa ayah saya,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Selain menjadi ruang untuk memberikan penghormatan kepada para kader senior dan tokoh Pro Mega, peringatan 30 tahun Kudatuli juga diisi dengan refleksi sejarah perjalanan politik yang mengiringi lahirnya PDI Perjuangan.

Dalam pemaparan sejarah yang disampaikan pada kegiatan tersebut, perjalanan menuju peristiwa 27 Juli 1996 dikaitkan dengan Kongres Luar Biasa PDI di Surabaya pada 1993. Dalam kongres tersebut, Megawati Soekarnoputri ditetapkan secara aklamasi sebagai Ketua Umum DPP PDI.
Setelah terpilih, Megawati kemudian melakukan konsolidasi organisasi ke sejumlah daerah. Dinamika politik yang berkembang pada masa Orde Baru kemudian semakin menguat hingga berlangsungnya Kongres Medan pada 1996. Peristiwa tersebut kemudian memunculkan dualisme kepengurusan di tubuh PDI, antara kelompok pendukung Megawati yang dikenal sebagai Pro Mega dan kelompok pendukung Soerjadi.
Momentum peringatan ini sekaligus mengingatkan kembali perjuangan sejumlah tokoh dan kader PDI Pro Mega di Sumatera Utara yang tetap mempertahankan sikap politiknya di tengah tekanan yang terjadi pada masa tersebut.
Salah satu nama yang kembali disebut dalam refleksi sejarah itu adalah Samamesa Bangun dari Kabupaten Langkat. Bersama sejumlah kader dan aktivis Pro Mega lainnya di Sumatera Utara, ia menjadi bagian dari perjalanan panjang perjuangan yang kemudian menjadi catatan penting dalam sejarah PDI Perjuangan.
Melalui peringatan 30 tahun Kudatuli, DPC PDI Perjuangan Langkat mengajak seluruh kader untuk tidak berhenti pada kegiatan mengenang sejarah semata. Perjalanan para pendahulu diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi kader saat ini untuk menjaga loyalitas, memperkuat solidaritas, serta melanjutkan perjuangan partai dengan semangat yang sama.
Bagi keluarga besar PDI Perjuangan Langkat, sejarah Kudatuli dan perjuangan para tokoh Pro Mega merupakan bagian dari perjalanan yang tidak boleh dilupakan. Semangat tersebut diharapkan terus menjadi warisan bagi generasi kader berikutnya dalam menjaga keberlangsungan perjuangan partai.


