
Tapanuli Tengah – Bupati Tapanuli Tengah yang sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu menegaskan perlunya paradigma baru pembangunan berbasis mitigasi bencana dalam menata ulang wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Ekosistem Batang Toru pascabencana.
Penegasan itu disampaikan Masinton saat membuka Workshop Menata Ulang Kabupaten Tapteng dan Ekosistem Batang Toru yang digelar di GOR Pandan, Selasa (12/5/2026).
Dalam paparannya, Masinton menyoroti kondisi geografis Tapteng yang didominasi kawasan perbukitan hingga mencapai sekitar 60 persen wilayah.
Ia juga menyinggung maraknya alih fungsi lahan di lereng-lereng perbukitan yang dinilai berlangsung agresif tanpa memperhatikan aspek lingkungan.
Menurutnya, banyak kawasan hutan yang ditebang dan diubah menjadi perkebunan kelapa sawit sehingga memperbesar risiko bencana.
“Pembicaraan kita hari ini adalah upaya penyelamatan ke depan. Apa yang kita rencanakan hari ini adalah upaya menghidupi generasi mendatang supaya mereka aman dan selamat. Kita harus datang dengan cara pandang baru, jangan lagi berpikir seperti sebelum bencana,” tegas Masinton.
Masinton menyebut bencana yang terjadi pada 25 November 2025 lalu menjadi pelajaran penting akibat pembangunan yang tidak berbasis lingkungan dan mitigasi risiko.
Karena itu, ia menegaskan seluruh kebijakan pembangunan ke depan wajib mempertimbangkan dampak terhadap potensi bencana.
“Peristiwa itu menjadi pelajaran pahit. Paradigma pembangunan ke depan harus berbasis mitigasi,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, Pemkab Tapteng melalui Dinas Pendidikan diminta menyusun modul pembelajaran pengenalan kebencanaan bagi pelajar sejak usia dini.
Langkah tersebut bertujuan membangun kesadaran masyarakat terhadap mitigasi bencana secara berkelanjutan.
“Kita harus punya komitmen kuat bagaimana mengatasinya melalui edukasi yang berkelanjutan,” tambahnya.
Workshop tersebut menghadirkan sejumlah pakar dan pemangku kepentingan yang membahas penataan wilayah dan mitigasi bencana dari berbagai aspek.


